Minggu, 27 Maret 2011

Islam Gaya Kampungan

Di sebuah desa kecil di pelosok Kecamatan yang menjadi Penghasil Padi terbesar di sebuah kabupaten di pantura ini, masing-masing warga memiliki cara unik untuk memaknai dan mempraktekkan keislaman nya. Sebut saja ada seorang petani gurem, atau buruh tani bernama kang Wiji, seorang lelaki yang tak fasih mengucapkan dua kalimat syahadat ketika kawin dulu, tapi sampai sekarang kehidupan rumah tangga nya selalu di rasakan nya ayem, dan rileks. Istri nya yu Temen selalu setia menemani suami nya, kalau ada pekerjaan methal, ngaret, mathun, ngedhos dan lain sebagai nya. Sebuah profesi yang tidak pernah di hargai di negeri ini, yaitu petani di lakoni nya dari sejak masih remaja, sampai sudah beranak tiga, mereka selalu istiqomah melakoni nya.

Di sisi lain ada sebuah keluarga yang di isi oleh sekelompok orang yang agak religius, Pria ini biasa di sebut kang Kaji, karena memang dia sudah lebih beruntung melaksanakan dan menunaikan rukun Islam yang ke lima ini, maka nama nya pun berubah menjadi Kaji, dan akupun tak tau siapa nama lelaki ini sebenar nya, Keluarga ini adalah juragan material, karena di samping rumah nya ada sebuah bangunan toko yang menyediakan bahan bangunan.Memang ilmu agama nya tidak sedalam tokoh sekelas Kiai pengasuh pesantren, tapi jelas dia santri fanatik.

Lalu ada den Joyo, dia adalah seorang pensiunan Lurah desa di sini,meskipun tidak memiliki trah keturunan darah biru tapi gaya priyayi nya selalu di tampilkan nya untuk selalu menjaga prinsip hidup nya "Ajineng rogo songko busono" Bahkan untuk menjaga kesan kepriyayian nya dia sengaja membuat pagar rumah nya agak tinggi dan di pasangin gapura seperti gaya bangunan keraton.Begitulah tiga sosok berbeda di desa ini yang mewakili kelompok nya masing-masing.

Kang Wiji, sering mburuh pada Kang kaji, mengangkut pasir,semen, dan bahan material lain nya, di sela-sela pekerjaan nya sebagai petani gurem,hasil dari nguli ini lumayan untuk di jadikan penopang dapur rumah nya, juga bisa di jadikan sebagai penawar bibir manyun nya Yu Temen.Tapi akhir-akhir ini ada gelagat tidak betah dari diri Kang Wiji. "Aku wes tidak betah di ceramahi terus, buk" .katanya suatu hari,Ya sudah, Yu Temen manut saja.Apa mau nya Kang Wiji.

Kang wiji yang oleh Kang Kaji di anggap abangan itu sebetul nay bukan anti agama, Jauh di dasar hati nya dia itu sangat Islam. Sering dia berseloroh: "Rak mung mergo dereng nindakke"  Hanya karena belum mampu menjalankan (Syariat Islam. Khas ungkapan keagamaan petani Jawa yang buta huruf. Di banding Kang Kaji dan Den Joyo, Kang Wiji hanya setingkat punokawan,orang mudah menyuruh-nyuruh dan mentertawakan nya.Dan seperti layak nay punokawan,ia sering lebih suka menertawakan diri sendiri atau orang lain, ia pun bisa sinis,pandai ngekick balik jika mau.Tentu saja itu bila tak langsung berhadapan.

Umum nya, ketika memanggil pak haji ini dengan panggilan "Kajine" secara harfiah bermakna Haji nya, terasa dari kata ini ada sinisme yang tandas. Tiga orang ini mewakili tiga varian Abangan, Santri dan Priyayi.Sebagaimana di rumuskan dalam The Religion of Jawa Oleh Clifford geertz yang mashur itu. Sebagai santri Kang Kaji dan keluarga nay sangat berpegang teguh pada ajaran, dan terkadang lebih formalistik, seperti prinsip nya agar membayar upah buruh sebelum keringat nya kering.Dan semua buruh-buruh nya suka dengan ketepatan nya menggaji.Namun di satu sisi dia juga pantang memberi pinjaman uang.

Memang Kang Kaji murah dalam berbagai hal, murah senyum, murah menasehati, dan murah ceramah.Namun dalam hal uang, Kang kaji sangat hati-hati, untuk tidak menyebut pelit, karena dia pedagang, maka semua nya di anggap perdagangan, termasuk urusan dia dengan Tuhan nya. Pernah suatu ketika Istri Kang Wiji, Yu Temen, melahirkan, maka suami nya memutuskan untuk berani meminjam uang kepada Kang Kaji, namun malah di jawab dengan "Sebaik-baik harta adalah hasil cucuran keringat, bukan hasil pinjaman". Kecewa juga hati nya Kang Wiji,jadi makin berani dia menyebut Kang kaji dengan "Kajine".

"Kamu itu kebageten kok kang", Tegur Kang kaji suatu hari, di saat melihat Kang Wiji merokok di bulan puasa, "Lha kenapa to Ji ? ". Sanggah nya, tidak merasa bersalah, "Itu kamu merokok di depan orang banyak saat puasa" Kang Kaji beralasan, maka suasana kemudian menegang, dan akhir nya kang Wiji menjawab "Lha sampean bisa begitu itu khan karena wes sugih, coba kalau nasib nya seperti aku" .  kemudian Kang kaji ngalah, dan meninggalkan nya di situ.Namun di dalam hati nya dia merasa Kang Wiji sudah nranyak jauh dan melanggar norma-norma agama.

Den Joyo, juga seorang kaya, dia memiliki banyak sawah di desa itu, banyak sekali buruh nya di sawah, rata-rata sudah berumur uzur, karena memang sawah sekarang tidak menarik lagi di mata remaja dan pemuda desa ini. Semenjak kejadian itu Kang Wiji menjaga jarak dengan Kang Kaji, dia lebih sering memilih minta tolong dan ngutang ke Den Joyo. Dia semakin dekat dengan Den Joyo, selain bisa makan dan ngopi di pawon nya sekenyang nya, Den Joyo juga mudah kalau di sambat, dan di mintain tolong, misal nya minta di bayar di muka sebuah pekerjaan.Sifat begitu memang yang di harapkan oleh wong cilik dari priyayi kaya, dan di "bayar" dengan penghormatan yang tulus dari mereka, bukan basa-basi.

Rupa nya benar kata James Scott, Orang kaya di akui sah kekayaan nya hanya bila ia murah dan dermawan pada yang miskin. Aneh nya kemurahan Den Joyo di kritik oleh Kang Kaji dan di anggap sebagai perbuatan tidak mendidik.Hanya membuat orang ketergantungan dan membuat orang macam kang Wiji tambah malas saja. Den Joyo pura-pura tidak mendengar kritikan itu, dia tau Kang Kaji sedang berusaha menutupi sifat pelit nya saja.Meskipun begitu hubungan mereka tetap baik, bukti nya ketika Den Joyo sakit, maka Kang Kaji menjenguk nya dengan membawakan Jamu. Sakit Den Joyo sembuh, tapi sakit lain nya kambuh, yaitu sakit hati saat Kang Kaji menasehati nya dengan ketus, "Den, sakit sampean bisa sembuh kalau mau shalat tekun, shalat lah sebelum di shalati". tegas nya di depan Den Joyo.
Hati nya Den Joyo tersinggung, dan di dalam hati nya dia berkata: "Apa cuma kaji doang yang punya Tuhan? " . Tapi itu tak di tunjukkan oleh Den Joyo, sikap nya tetap baik, sebagai sesama warga desa itu.

1 komentar: