Senin, 23 Mei 2011

Memahami Ihsan Secara Substantif

Syahdan datanglah seorang lelaki yang berpakaian serba sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak di ketahui dari mana datang nya, tiba-tiba sudah ada di hadapan Kanjeng Nabi Muhammad saw.Pada saat itu kebetulan para sahabat juga sedang duduk menyertai Nabi dalam pertemuan itu. Lelaki itu kemudian menyandarkan dua lutut nya di kedua lutut Nabi, kemudian meletakkan kedua telapak tangan nya di atas paha nya.Lalu  bertanya kepada Nabi tentang apa itu Iman, apa itu Islam dan apa itu Ihsan. Satu persatu di jelaskan secara rinci apa itu iman, islam dan ihsan.

Dalam tulisan ini, kami ingin menitik beratkan pada pembahasan Ihsan, dalam hadits ini Pria misterius yang akhir nya di jelaskan oleh nabi kepada sahabat sebagai Malaikat Jibril a.s. ini,menjabarkan bahwa Ihsan ialah:"An ta'budallaha ka annaka tarahu, wain lam takun tarahu, fa innahu yaraka". (Agar kamu menghamba (beribadah) pada Allah seakan kamu melihat Nya, tapi bila kamu tidak bisa melihat Nya, maka sungguh Dia Maha melihat mu).

Ihsan, (Ahsana Yuhsinu Ihsan): dalam bahasa ialah "berbuat baik". Dalam hadits di atas di jelaskan bahwa Ihsan ialah perasaan dan kesadaran kita dalam menghamba kepada Allah swt. dengan selalu merasa melihat Nya atau dalam pengawasan Nya, bila tidak bisa seperti itu maka kita harus merasa bahwa penghambaan kita itu selalu di lihat dan di awasi oleh Nya. Dalam konteks ini, kami rasa lebih tepat  memaknai maksud dari "ubudiyyah" dalam hadits ini ialah sifat kita sebagai hamba ('abd) secara umum, bukan terbatas pada pemahaman "ibadah/ubudiyyah" yang khusus berupa ritual (dengan Tuhan)semata.

Jadi dalam memaknai Ihsan maka lebih tepat nya ialah: Kesadaran kita sebagai Hamba yang selalu merasa melihat Tuhan Nya, atau merasa di lihat dan di awasi Tuhan nya, di manapun, kapanpun, bersama siapapun, bukan terbatas hanya saat beribadah seperti Shalat dll. Karena kalau hanya di maknai sebagai "ibadah" yang bersifat ritual maka makna Ihsan juga akan sangat terbatas dan tidak universal. Padahal kata Ihsan itu sendiri  sebenar nya memiliki arti yang sangat universal yaitu "berbuat baik" yang konotasi nya ialah bentuk interaksi antar manusia, dalam kata lain hubungan horisontal (hablun min annas).

Pemaknaan Ihsan dengan kesadaran akan pengelihatan Tuhan pada kita sebagai hamba bisa di samakan dengan "dzikir" yang bermakna "ingat" (bukan  dzikir yang sebatas bermakna "menyebut").Karena substansi dari kedua hal ini yaitu "sadar" dan "ingat" pada ke -Maha melihat- Nya Tuhan akan tingkah laku kita. Pemahaman bahwa Ihsan bukan hanya kesadaran kita saat ibadah tentang Pengawasan Tuhan, tapi juga saat waktu dan kesempatan yang lain,dan  kemudian berimplikasi pada tingkah laku kita yang selalu ingin melakukan hanya yang "ihsan" (berbuat baik) pada sesama maka pemahaman yang demikian ini menjadi  lebih "substantif".

Senin, 09 Mei 2011

Pesantren Tanpa Nama

Pondok pesantren Tradisional yang banyak tersebar di berbagai penjuru Nusantara, terutama di tanah Jawa, yang mayoritas berafiliasi di bawah bendera Nahdlatul Ulama' adalah lembaga pendidikan tertua yang ada di negeri ini. Para pengasuh yang menjadi mua'ssis setiap pesantren, itu mayoritas juga pendiri organisasi terbesar di dunia yaitu NU. Misal nya pendiri pesantren Tebuireng adalah Mahaguru KH.Hasyim Asy'ari yang tidak lain adalah pendiri Nahdlatul Ulama'.

Kalau kita perhatikan, justru cikal bakal pesantren di negeri ini rata-rata tidak memberi nama pesantren nya dengan nama khusus apalagi menggunakan nama yang berbahasa arab. Kita ambil contoh misal nya, Pesantren Tebuireng, Pesantren Langitan, Pesantren Lirboyo, Pesantren Termas, Pesantren Girikusumo (Demak), Pesantren Tegal rejo (Magelang), Pesantren Balekambang (Jepara) dll. Rata-rata tidak ada tidak menggunakan nama berbau Arab.

Mungkin sebagian ada yang mencoba menggunakan nama dengan bahasa Arab, seperti Pesantren Alanwar (Sarang) atau Pesantren Raudlatul mubtadiin (Balekambang) dll, namun bagi masyarakat kebanyakan lebih familier menyebut nya dengan nama tempat nya, misal nya lebih suka menyebut Pesantren Al anwar dengan sebutan "Pesantren Sarang", bukan Alanwar. Begitu juga kalau mau menyebut nama Pesantren Raudlatul mubtadiin mereka lebih mudah menggunakan sebutan "Pesatren Balekambang".

Ada banyak alasan kenapa para Kiai pada saat itu lebih suka menggunakan nama desa atau kampung nya untuk menyebut nama pesantren nya. di antara nya ialah demi membumikan pesantren, agar lebih menyatu menjadi ruh dari kampung itu, di samping untuk memudah kan orang mengingat pesantren itu. Karena memang rata-rata pesantren itu datang belakangan setelah kampung itu ada sebelum nya, Bahkan kebanyakan penentuan lokasi pesantren itu bukan sembarangan, tapi di tentukan dari sebuah ritual Istikharah yang di lakukan oleh Sang Kiai sebelum menentukan di mana dia harus menetap dan mendirikan pesantren nya.

Sikap terbuka (inklusif), merangkul masyarakat, dan guyup dengan warga ini menjadi sebuah strategi awal agar pesantren bisa di terima oleh masyarakat setempat. Bagaimana mungkin pendatang baru yang masih di anggap asing kemudian tiba-tiba semena-mena mengklaim salah, sesat, dosa, dan masuk neraka terhadap masyarakat yang mau di dakwahi nya?... rasa nya kalau seandai nya para pendiri pesantren dulu seperti itu, niscaya Islam tidak menjadi besar di Nusantara. Karena masyarakat akan buru-buru berpaling muka, menutup pintu rumah mereka masing - masing, dan menolak dakwah Islamiyah yang di lakukan oleh para Wali saat itu.

Manuggaling pesantren dengan kampung setempat, kemudian menjadi sebuah keistimewaan tersendiri. Istimewa karena para kiai saat itu legowo untuk menerima dan meleburkan diri tanpa nama (formal) untuk pesantren nya,demi bisa di terima oleh warga. Malah kebanyakan akhir nya kemanunggalan nama itu bukan hanya sekedar di nama pesantren saja, namun juga di gunakan sebagai nama belakang (nisbat/nisby) bagi para kiai itu, seperti nama Mbah Hadi Girikusumo, Mbah Mad watu congol, Mbah Maksum Krapyak dll. Dan para kiai itu tidak merasa terhina di nisbatkan ke sebuah kampung kecil misal nya namun malah menjadi nama kebanggaan.

Sikap-sikap legowo, untuk manuggal dengan masyarakat inilah sekarang yang jarang kita temui dari pada da'i (pendakwah) Islam sekarang, justru terkadang prilaku mereka malah terkesan elitis, eksklusif dan tercerabut dari adat istiadat masyarakat setempat, dan berusaha membuat lelakon yang malah kadang di rasa asing oleh masyarakat yang akan di dakwahi nya. Seperti yang di lakukan oleh sebagian teman dari Ikhwan atau HTI , mereka menyebut bahwa Tahlilan itu Bid'ah, yang boleh itu adalah wirid ma'tsurat dari Nabi Muhammad SAW.Tapi setelah di tunjukkan ke masyarakat ternyata isinya ya sama saja yaitu Tahlil, Tahmid, Takbir dll.

Apalah arti nya memiliki nama berbahasa arab, misal nya. tapi kalau tidak di terima oleh masyarakat yang akan di dakwahi, justru ini akan menghambat misi dakwah yang akan di laksanakan. Maka lebih baik tidak bernama, dan melebur dengan nama kampung setempat asalkan bisa di terima dan sukses misi dakwah nya. Malah ada banyak Kiai yang tidak suka di sebutkan nama nya dalam catatan sejarah, sebagaimana di ceritakan oleh Almukarram Habib Luthfi Bin Yahya (Pekalongan): Bahwa saat ingin mendirikan NU, dulu Hadhratu syaikh KH.Hasyim Asyari menemui beberapa orang Kiai  Khas, untuk memohon restu dan minta idzin mendirikan NU setelah di Istikharahi oleh para Ulama di Haromain, beliau di suruh sowan ke Habib Hasyim bin Umar bin Toha Bin Yahya Pekalongan, dan sowan ke Mbah Kholil Mbangkalan, Saat KH Hasyim Asyari sowan beliau berdua mengiyakan dan merestui berdiri nya NU, sembari dawuh:"KH.Hasyim asyari silahkan laksanakan niatmu untuk membentuk wadah ahlussunah wal jamaah, saya rela tapi tolong nama saya jangan di tulis".

Beginilah keikhlasan para wali dulu dalam menjalankan tugas nya berdakwah di tanah Nusantara, mereka rela nama nya melebur di tempat tinggal nya, seperti Mbah Khalil Bangkalan ini, bahkan meminta tidak di catat dalam sejarah. Hal-hal seperti ini perlu di tiru dan di contoh oleh para da'i, kiai, ustadz dan para guru. Hal ini penting di tekankan di tengah suasana yang materialistik seperti sekarang ini. Yaitu apa-apa di hargai dengan materi dan uang, sampai-sampai dakwah yang harus nya steril dari niat materi seperti ini, sekarang juga sudah terjangkiti virus materialistik, "ada uang kami datang, tak ada uang kami tak datang". Begitu kira-kira kata yang ada di benak para da'i sekarang.

Semoga kita bisa melestarikan sikap tawadlu' dan ikhlas yang ada dalam diri para leluhur kita,.. Amin ya Rabbal alamin.

Waliyullah Memang Rahasia Allah


Oleh: Muhyiddin (dalam Terong Gosong)

Syeh Syihabudin Al Qalyubi menyebutkan dalam kitab karanganya ”An Nawadir”, bahwa Allah SWT merahasiakan 5(Lima) hal dalam 5(Lima) hal. salah satunya adalah Allah merahasiakan keberadaan kekasih-Nya(wali-Nya) di antara manusia.Untuk apa? Tidak lain adalah agar kita berhati-hati atau menghormati kepada semua orang.
Karena kita tidak tahu siapa orang yang kita selalu kita temui, boleh jadi menurut kita orang biasa/hina tapi ternyata ia adalah waliyullah, maka dengan begitu kita harus menghormati semua orang. Dan memang waliyullah adalah Rahasia Allah, hanya orang-orang pilihan saja yang tahu keberadaan wali-wali Allah sampai sampai di dunia per-wali-an muncul ”Pameo”:

لايعرف الوالي إلاالوالي

”Tidak ada yang mengetahui bahwa seseorang itu wali kecuali ia sendiri wali”.
Wali tidak lebih adalah seorang manusia, sama seperti kita-kita ini, hanya saja ia mempunyai derajat yang tinggi di hadapan Allah, sehingga ia menjadi kekasih Allah.
Mengenai kerahasiaan wali di antara para manusia ini saya teringat apa yang dikisahkan oleh guru saya Mbah Kyai Solichun (PonPes Nurul Hasan, Geger Tegalrejo) sewaktu saya sowan kepada beliau. beliau bercerita, bahwa pada suatu hari Mbah Kyai Marzuqi Lirboyo kedatangan seorang tamu. Tidak seperti pada hari-hari biasanya, di mana tamu yang sowan adalah kyai atau santri berpakaian rapi. Tamu beliau kali ini memang lain dari yang lain, bermata sipit seperti orang keturunan tionghoa(bhs jawa: koyo wong cino), memakai celana pendek dan membawa seekor anjing yang diikat dengan tali.
Pada saat yang bersamaan Mbah Kyai Mahrus (adik Kyai Marzuqi) memperhatikan tamu yang datang ini dari kejauhan.
Tanpa disangka ternyata Mbah Kyai Marzuqi menyambut tamu ini dengan penuh hormat, mencium tanganya dan melayani tamu tersebut secara istimewa.
Karena terkejut dengan sikap Mbah Kyai Marzuqi teradap tamunya, maka setelah tamu tersebut pamitan, Mbah Kyai Mahrus bergegas bertanya kepada Mbah Kyai Marzuqi siapakah tamu beliau tadi dan mengapa Mbah kyai menyambut dengan penuh hormat (bhs Jawa:munduk-munduk), mencium tangan dan melayaninya dengan khidmat.
Mbah Marzuqi menjawab:”Kae mau Nabi Khidir, ngabari aku nek patang puluh dino maneh aku mati” (itu tadi nabi Khidir, memberitahuku bahwa 40 (empat puluh) hari lagi aku mati.”
Dan memang benar, Mbah Kyai Mahrus menghitung tepat 40 (empat puluh) hari setelah kedatangan tamu tersebut, Mbah Kyai Marzuqi dipanggil menghadap Allah SWT.
Wali memang rahasia Allah….
Wallahu A’lam.

Sabtu, 07 Mei 2011

Menjaga Toleransi

"Haleloyaa... Haleloyaa... Haleloyaa..." Sayup-sayup lagu itu aku dengar saat menunaikan jamaah shalat Jum'at  (6-Mei-2011) di Sebuah masjid milik Yayasan Dharma Karya di daerah Melawai Jakarta Selatan.Bukan aku saja yang mendengar lantunan lagu itu, bahkan seluruh jamaah yang hadir saat itu juga mendengar nya. Sampai pada saat di kumandangkan Iqamat pertanda Shalat Jum'ah mau di tunaikan setelah Khatib selesasi menjalankan tugas nya dalam Khutbah Jum'at yang ke dua, lagu itu semakin terdengar keras, karena suasana di masjid saat itu hening , dan hanya suara imam saja yang terdengar lewat pengeras suara.

Memang posisi masjid ini berada di dalam Komplek sekolahan, berdekatan dengan dua sekolahan Kristen dan satu gereja. Jadi segala suara yang keluar dari lembaga non muslim ini ketika di teriakkan dengan Toa maka akan terdengar dari dalam Masjid,sebalik nya ketika di dalam Masjid ada acara seperti Shalat Jum'at dll, maka akan terdengar juga dari kedua lembaga pendidikan Kristen dan gereja  itu. Begitu juga saat kemarin kami melaksanakan Shalat Jumat di Masjid Alfalah ini. Di samping mendengarkan dengan khusuk petuah dari khatib yang kebetulan menjelaskan tentang akhlaq Nabi Muhammad SAW. terhadap tetangga, kami para jamaah juga sayup-sayup mendengar dendang lagu Haleloya, jadi seakan-akan suara khatib di beri back sound dengan lagu haleloya.

Saat itu kami hanya senyum-senyum ringan mendengar lagu itu,tidak pernah terlintas dari diri kami untuk merasa terusik, dan kemudian melakukan hal yang negatif, sungguh sikap yang harus di lestarikan. Di saat menghadapi realitas perbedaan, maka senyum adalah kunci paling ampuh untuk meredam ketidak sepahaman. Bisa di bayangkan seandai nya saat itu yang berkhotbah adalah orang (khatib) yang berwatak suka memprovokasi bisa jadi setelah Shalat Jum'at yang terjadi adalah penyerangan atau kekerasan atas nama agama yang tidak perlu (Na'udzu billah min dzalik).Itu bukan tidak mungkin karena seperti api, sumbu nya sudah ada (bagi kelompok islam yang menganggap itu sebagai api)tinggal di sulut maka api akan mudah menyala. Namun sekali lagi saat itu toleransi masih ada di dada kami masing-masing, dan semoga akan selalu lestari.

Dari kejadian singkat itu, aku lalu menyimpulkan bahwa sebagai bangsa Timur kita sebenar nya masih sangat toleran terhadap perbedaan, entah itu perbedaan agama, suku,ras, pandangan politik dll. Perbedaan bisa menyebabkan kita menjadi bermusuhan dan saling menyerang hanya ketika di bakar oleh pemahaman sebagian khatib, da'i atau penceramah yang "sempit". Oleh sebab itu kita harus hati-hati menentukan siapa sajakah yang layak kita dengar khutbah,ceramah,dan dakwah nya. Kepandaian kita untuk menentukan pilihan siapa yang akan kita jadikan panutan menjadi penyebab damai dan rusuh nya negeri ini.Hanya kita sajalah yang bisa menentukan masa depan negeri ini.

Menjaga toleransi adalah "kata kunci" damai nya negeri ini.Tidak harus dengan tindakan yang rumit-rumit dan idealis, cukup dengan perilaku yang sederhana, seperti senyuman ringan saat sedang berbeda,sebagaimana yang kami lakukan di saat itu. Walaupun kami sedang melakukan ritual yang paling suci (shalat Jum'at), dan sedikit terusik dengan nyanyian-nyanyian yang non islami, tapi kami tetap tersenyum, toh nyatanya shalat kami selesai juga,dan lengkap syarat rukun nya. oleh sebab itu tersenyumlah, dan bahkan Kanjeng Nabi pun menganggap nya sebagai ibadah. "Senyum itu ibadah".

Minggu, 01 Mei 2011

Sapa Nandur, Ngundhuh

Dalam sebuah artikel di Kompas -Minggu,1 Mei 2011-  berjudul "Mencumbu Sarang Angin",yang mengupas tentang rumah Kang Sobari (seorang budayawan) banyak sekali pelajaran hidup yang di ambil beliau dari rumah yang ndhelik dari keramaian kota. Ada hal yang menarik untuk di kupas dari tulisan singkat di Kompas ini.di antara nya ialah sebuah cerita dari Kang Sobari bahwa  dalam sebuah kesempatan saat memberikan petuah atau pesan hidup ke putri-putri nya.Beliau berpesan:"Urip iku beja-cilaka,ala-becik,kabeh mung methik wohing pekerti. Sapa gawe, nganggo. Sapa nandur,ngundhuh.Supaya sarwa becik ,mula aja gawe kapitunaning liyan". (Hidup itu untung-celaka,buruk-baik,semua hanya memetik buah perbuatan sendiri.Siapa berbuat ia bertanggung jawab,siapa menanam, menuai.Supaya semua  ya baik,jangan berbuat hal-hal yang merugikan orang lain).

Begitulah petuah yang biasa di ajarkan oleh leluhur, orang tua, dan para sesepuh kita kepada generasi selanjut nya. Rasa nya petuah seperti itu akan selalu relevan untuk selalu di ajarkan dari generasi ke generasi berikut nya. Demi kelangsungan peradaban manusia yang berkeadaban dan berkemanusiaan. Apa lagi kalau kita melihat prilaku kebanyakan dari kita yang akhir-akhir sudah tidak melihat lagi tatanan dan pakem hidup yang semestinya, apakah perbuatan nya itu merugikan orang lain atau tidak?.

Mari kita tengok sebentar, bagaimana para teroris yang selalu membuat keresahan di tengah masyarakat, apa lagi kalau sampai perbuatan mereka itu sudah mengakibatkan kematian jiwa seseorang, maka yang terjadi selanjut nya ialah, seorang istri menjadi janda,seorang anak menjadi yatim dan orang tua menjadi tak beranak lagi. betapa banyak pihak yang di rugikan dari perbuatan yang di klaim sebagai misi suci menuju surga. Benarkah perbuatan itu memang bisa menghantarkan menuju surga,tidak ada yang bisa memastikan dan tidak ada yang tahu.

Rasa nya mayoritas dari kita, mulai dari pejabat, politisi,pekerja,dan orang biasa seperti kita yang awam, akhir-akhir ini sudah mulai tidak hirau dengan petuah-petuah adiluhung yang bisa menjadi penuntun jalan hidup kita. Oleh sebab itu yang terjadi adalah saling tikam, saling serang dan saling merugikan satu sama lain. Sedikit-sedikit kita mudah tersinggung, mudah menghujat, dan mudah memusuhi, bahkan mencelakai, dengan tanpa rasa takut apakah perbuatan kita itu bisa berbalik kepada diri kita lagi apa tidak.

"Sapa nandur, ngundhuh" , Begitulah pesan yang terkesan seperti membenarkan ada nya hukum karma. Petuah ini sama makna dengan unen-unen sederhana di Jawa:"Ojo njiwet, yen ora gelem di jiwet". (Jangan mencubit kalau tidak mau di cubit). Kalau kita sambung kan ke segala bentuk tindakan dan prilaku kita sehari -hari, bisa saja kita kiyaskan dengan kata: Ojo ngebom yen ora gelem di bom. Ojo mateni yen ora gelem di pateni. Ojo menthung yen ora gelem di penthung.Jangan mencelakakan orang lain kalau tidak mau di celakakan, Jangan menikam teman politik kalau tidak mau di tikam, dst.Kalau mind set diri kita masing-masing sudah menyadari hal ini, maka kehidupan kita sehari-hari akan menjadi sebuah kehidupan yang harmoni,damai,dan saling menghargai, karena kesadaran diri kita bahwa perbuatan buruk yang kita lakukan, bagaimanapun akan kembali lagi kita pertanggung jawabkan baik instant di dunia dan kelak di akherat nanti.

Tanpa harus dengan menggunakan dalil-dalil agama yang hanya di ketahui oleh para kiai, ustadz dan mereka yang tahu agama saja.Rasa nya perbuatan mencelakai orang lain, itu sudah pasti tidak baik, peradaban manapun memastikan itu.Oleh sebab itu mari kita melakukan perbuatan yang baik, sekecil dan seremeh apapun di mata kita. karena kebaikan itu adalah bagian dari manifestasi keimanan. Karena dalam Islam perbuatan baik itu banyak sekali cabang-cabang nya dan di anggap menjadi bagian dari tanda penunjuk keimanan, sebagaimana di sabdakan oleh Kanjeng Nabi Muhammad saw. "Bahwa menyingkirkan kotoran dari jalan adalah sebagai selemah-lemah nya iman".
Kalau menyingkirkan kotoran dari jalan saja di anggap sebagai bagian dari iman, maka perbuatan baik yang jauh lebih bernilai dalam kemanusiaan  sudah pasti akan lebih di hargai sebagai bagian dari bukti keimanan, dan tidak perlu repot-repot melakukan teror yang justru kontra produktif dari maqasid syariah (maslahat).

Jumat, 29 April 2011

Takayyu' (berlagak kiyai) atawa Igtismaas (Ketergusmusan)

Pagi hari, dua orang tamu menyapa santri,
“Mau sowan Kyai, Kang”.
Santri membawa tamu-tamu itu ke ruang tamu saya.
“Dari mana, Pak?” tanya saya setelah berbalas salam.
“Dari Tuban”.
Tamu merapikan duduk.
“Begini, Kyai, kami ini dari Panitia Rajabiyyah Jamaah Masjid Rengel, Tuban”, yang kelihatan lebih tua mengawali, “kami dan kawan-kawan jamaah sepakat ingin mengundang Kyai untuk memberi ceramah pada pengajian Rajabiyyah kami yang akan datang”.
“O…”, nada suara saya sengaja saya bikin rileks dan sedikit acuh tak acuh, padahal batin saya berbunga-bunga — ternyata saya mulai laku juga ceramah di tempat jauh, “kapan itu ya?”
“Waktunya terserah Kyai saja. Cuma, kalau bisa sekitar Rajab akhir, ‘gitu…”
Saya berlagak merenung sejenak. Tamu itu melirik Ji Sam Soe yang tergeletak diatas meja.
“Sebentar, saya lihat jadwal saya dulu ya”, saya bangkit dari kursi.
“Saya juga mohon ijin keluar sebentar, Kyai”, yang lebih muda berkata.
“Mau kemana?”
“Ada perlu sedikit”.
“Oh… ya”.
Saya beranjak ke dalam, si anak muda keluar rumah.
Ini cuma aksi. Saya harus memberi kesan kepada mereka bahwa saya sudah punya kesibukan yang cukup padat. Dari kamar saya ambil komunikator rusak yang walaupun ditempeli batere dobel tak akan menyala.
Kembali ke ruang ramu, dua bungkus Ji Sam Soe yang baru telah diletakkan diatas meja.
“Rokok, Kyai”, si anak muda menyilahkan.
“Wah, repot-repot?”
“Enggak kok…”
“Ya, ya. Terimakasih, terimakasih”.
Saya buka komunikator rusak itu dan memencet-mencet tombolnya seolah memeriksa skedul. Mereka menunggu dengan sabar.
“Wah, tanggal 25 keatas sudah penuh ini”, kata saya. Penuh apanya? Wong saya nggak punya kerjaan kok.
“Ya… terserah Kyai saja lah…”
“Kalau tanggal 21 gimana ya? Malam hari ‘kan?”
“Ya, Kyai, ndherek mawon…
Kami sepakati hari Anu malam Anu tanggal 21 Rajab. Si tua mengeluarkan kertas dan pulpen untuk mencatat tanggal itu. Mereka kelihatan lega sekali.
“Mari lho, silahkan diminum…” saya menawarkan teh manis yang sudah mulai dingin.
Ketika bersalaman untuk pamit, si tua menempelkan amplop ke tangan saya. Itu porsekot untuk memastikan saya benar-benar hadir pada waktu yang disepakati.
“Terimakasih, terimakasih. Mudah-mudahan tak ada udzur…”
Di ambang pintu, si tua berhenti sejenak.
“Mohon maaf, Kyai”, katanya, “nama lengkap panjenengan itu Ahmad Mustofa Bisri atau Muhammad Mustofa Bisri?”
“Lho?”
Matik aku.
“Lho?”
Wah… waaaah…. matik aku!

(Di ambil dari  TerongGosong.com)

Ulama-ulama Indonesia Di Haromain:Embrio NU di Indonesia

Surel Cetak PDF
Banyak diantara kita yang kepaten obor, kehilangan sejarah, terutama generasi-generasi muda. Hal itupun tidak bisa disalahkan, sebab orang tua-orang tua kita, -sebagian jarang memberi tahu apa dan bagaimana sebenarnya Nahdlitul Ulama itu.
Karena pengertian-pengertian mulai dari sejarah bagaimana berdirinya NU, bagaimana perjuangan-perjuangan yang telah dilakukan NU, bagaimana asal usul atau awal mulanya Mbah Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan NU dan mengapa Ahlus sunah wal jamaah harus diberi wadah di Indonesia ini.
Dibentuknya NU sebagai wadah Ahlu Sunah bukan semata-mata KH Hasyim Asy’ari ingin ber-inovasi, tapi memang kondisi pada waktu itu sudah sampai pada kondisi dloruri, wajib mendirikan sebuah wadah. Kesimpulan bahwa membentuk sebuah wadah Ahlus Sunah di Indonesia menjadi satu keharusan, merupakan buah dari pengalaman ulama-ulama Ahlu Sunah, terutama pada rentang waktu pada tahun 1200 H sampai 1350 H.
Pada kurun itu ulama Indonesia sangat mewarnai, dan perannya dalam menyemarakan kegiatan ilmiyah di Masjidil Haram tidak kecil. Misal diantaranya ada seorang ulama yang sangat terkenal, tidak satupun muridnya yang tidak menjadi ulama terkenal, ulama-ulama yang sangat tabahur fi ilmi Syari’ah, fi thoriqoh wa fi ilmi tasawuf, ilmunya sangat melaut luas dalam syari’ah, thoriqoh dan ilmu tasawuf. Dintaranya dari Sambas, Ahmad bin Abdu Somad Sambas. Murid-murid  beliau banyak yang menjadi ulama-ulama besar seperti Kyai Tholhah Gunung jati Cirebon.
Kiai Tholhah ini adalah kakek dari Kiai Syarif Wonopringgo, Pekalongan. Muridnya yang lain, Kiai Syarifudin bin Kiai Zaenal Abidin Bin Kiai Muhammad Tholhah. Beliau diberi umur panjang, usianya seratus tahun lebih. Adik seperguruan beliau diantaranya Kiai Ahmad Kholil Bangkalan. Kiai kholil lahir pada tahun 1227 H. Dan diantaranya murid-murid Syeh Ahmad sambas yaitu Syekh Abdul Qodir Al Bantan, yang menurunkan anak murid, yaitu Syekh Abdul Aziz Cibeber Kiai Asnawi Banten. Ulama lain yang sangat terkenal sebagai ulama ternama di Masjidil Harom adalah  Kiai Nawawi al Bantani.
Beliau lahir pada tahun 1230 H dan meninggal pada tahun 1310 H, bertepatan dengan meninggalnya mufti besar Sayid Ahmad Zaini Dahlan. Ulama Indonesia yang lainnya yang berkiprah di Masjidil Harom adalah Sayid Ahmad an Nahrowi Al Banyumasi, beliau diberi umur panjang, beliau meninggal pada usia 125. Tidak satupun pengarang kitab di Haromain; Mekah-Madinah, terutama ulama-ulama yang berasal dari Indonesia yang berani mencetak kitabnya sebelum ada pengesahan dari Sayidi Ahmad an Nahrowi Al Banyumasi.
Syekh Abdul Qadir Al Bantani murid lain Syekh Ahmad bin Abdu Somad Sambas, yang mempunyai murid Kiai Abdul Latif Cibeber dan Kiai Asnawi Banten. Adapun ulama-alama yang lain yang ilmunya luar biasa adalah Sayidi Syekh Ubaidillah Surabaya, beliau melahirkan ulama yang luar biasa yaitu Kiai Ubaidah Giren Tegal, terkenal sebagai Imam Asy’ari-nya Indonesia.
Dan melahirkan seorang ulama, auliya besar, Sayidi Syekh Muhammad Ilyas Sukaraja. Guru dari guru saya Sayidi Syekh Muhamad Abdul Malik. Yang mengajak Syekh Muhammad Ilyas muqim di Haromain yang mengajak adalah Kiai Ubaidah tersebut, di Jabal Abil Gubai, di Syekh Sulaiman Zuhdi. Diantaranya murid muridnya lagi di Mekah Sayidi Syekh Abdullah Tegal. Lalu Sayidi Syekh Abdullah Wahab Rohan Medan, Sayid Syekh Abdullah Batangpau, Sayyidi syekh Muhmmad Ilyas Sukaraja, Sayyidi Syekh Abdul Aziz bin Abdu Somad al Bimawi, dan Sayidi Syekh Abdullah dan Sayidi Syekh Abdul Manan, tokoh pendiri Termas sebelum Kiai Mahfudz dan sebelum Kiai Dimyati.

Dijaman Sayidi Syekh Ahmad Khatib Sambas ataupun Sayidi Syekh Sulaiman Zuhdi, murid yang terakhir adalah Sayidi Syekh Ahmad Abdul Hadi Giri Kusumo daerah Mranggen. Inilah ulama-ulama indonesia diantara tahun 1200 H sampai tahun 1350. Termasuk Syekh Baqir Zaenal Abidin jogja, Kyai Idris Jamsaren, dan banyak tokoh-tokoh pada waktu itu yang di Haromain. Seharusnya kita bangga dari warga keturunan banagsa kita cukup mewarnai di Haromain, beliau-beliau memegang peranan yang luar biasa. Salah satunya guru saya sendiri Sayyidi Syekh Abdul Malik yang pernah tinggal di Haromain dan mengajar di Masjidil Haram khusus ilmu tafsir dan hadits selama 35 tahun.
Beliau adalah  muridnya Syekh Mahfudz Al Turmidzi. Mengapa saya ceritakan yang demikian, kita harus mengenal ulama-ulama kita dahulu yang menjadi mata rantai berdirinya NU, kalau dalam hadits itu betul-betul tahu sanadnya, bukan hanya katanya-katanya saja, jadi kita harus tahu darimana saja ajaran Ahli Sunah Wal Jamaah yang diambil oleh Syekh Hasyim Asy’ari.
Bukan sembarang orang tapi yang benar-benar orang-orang tabahur ilmunya, dan mempunyai maqomah, kedudukan yang luar biasa. Namun sayang peran penting ulama-ulama Ahlu Sunah di Haromain pada masa itu (pada saat Syarif Husen berkuasa di Hijaz), khsusunya ulama yang dari Indonesia tidak mempunyai wadah. Kemudian hal  itu di pikirkan oleh kiai Hasyim Asy’ari disamping mempunyai latar belakang dan alasan lain yang sangat kuat sekali.

Menjelang berdirinya NU beberapa ulama besar kumpul di Masjidil Harom, -ini sudah tidak tertulis dan harus dicari lagi nara sumber-sumbernya, beliau-beliau menyimpulkan sudah sangat mendesak berdirinya wadah bagi tumbuh kembang dan terjaganya ajaran Ahlu Sunah Wal Jamaah. Akhirnya  di istiharohi oleh para ulama-ulama Haromain, lalu mengutus Kiai Hasyim Asy’ari untuk pulang ke Indonesia agar menemui dua orang di Indonesia, kalau dua orang ini mengiakan jalan terus kalau tidak, jangan diteruskan. Dua orang tersebut yang pertama Habib Hasyim bin Umar Bin Toha Bin Yahya Pekalongan, yang satunya lagi Mbah kholil Bangkalan.
Oleh sebab itu tidak heran jika Mukatamar NU yang ke 5 dilaksanakan di Pekalongan tahun 1930 M. Untuk menghormati  Habib Hasyim yang wafat pada itu. Itu suatu penghormatan yang luar biasa. Tidak heran kalau di Pekalongan sampai dua kali menjadi tuan rumah Muktamar Thoriqoh. Tidak heran karena sudah dari sananya, kok tahu ini semua sumbernya dari mana? Dari seorang yang soleh, Kiai Irfan. Suatu ketika saya duduk-duduk dengan Kiai Irfan, Kiai Abdul Fatah dan Kiai Abdul Hadi. Kiai Irfan bertanya pada saya “kamu ini siapanya Habib Hasyim?”. Yang menjawab pertanyaan itu Kiai Abdul Fatah dan Kiai Abdul Hadi; “ini cucunya Habib Hasyim Yai”.
Akhirnya saya di beri wasiat, katanya; ‘mumpung saya masih hidup tolong catat sejarah ini. Mbah Kiai Hasyim Asy’ari datang ketempatnya Mbah Kiai Yasin, Kiai Sanusi ikut serta pada waktu  itu. Disitu diiringi oleh Kiai Asnawi Kudus, terus diantar datang ke Pekalongan, lalu bersama Kiai Irfan datang ke kediamannya Habib Hasyim. Begitu KH. Hasyim Asy’ari duduk,  Habib Hasyim langsung berkata, ‘Kyai Hasyim Asy’ari, silahkan laksanakan niatmu kalau mau membentuk wadah  Ahlu Sunah Wal Jamaah. Saya rela tapi tolong saya jangan ditulis’.
Itu wasiat Habib Hasyim, terus Kyai Hasyim Asy’ari merasa lega dan puas. Kemudin Kiai Hasyim Asy’ari menuju ke tempatnya Mbah Kiai Kholil Bangkalan, kemudian Mbah Kyai kholi bilang sama Kyai Hasyim Asyari laksanakan apa niatmu saya ridlo seperti ridlonya Habib Hasyim tapi saya juga minta tolong, nama saya jangan ditulis.’ Kata Kiai Hasyim Asy’ari ini bagaimana kyai, kok tidak mau ditulis semua. Terus mbah Kiai Kholil menjawab kalau mau tulis silahkan tapi sedikit saja. Itu tawadluknya Mbah Kyai Ahmad Kholil Bangkalan. Dan ternyata sejarah tersebut juga dicatat oleh Gus Dur.
Inilah sedikit perjalanan Nahdlotul Ulama. Inilah perjuangan pendiri Nahdlotul ulama. Para pendirinya merupakan tokoh-tokoh ulama yang luar biasa. Makanya hal-hal  yang demikian itu tolong ditulis, biar anak-anak kita itu tidak terpengaruh oleh yang tidak-tidak, sebab mereka tidak mengetahui sejarah. Anak-anak kita saat ini banyak yang tidak tahu, apa sih NU itu? Apa sih Ahlu Sunah itu? La ini permasalahan kita. Upaya pengenalan itu yang paling mudah dilakukan dengan memasang foto-foto para pendiri NU, khususnya foto Hadrotu Syekh Kiai Hasyim Asy’ari. (Disampaikan pada Harlah NU di Kota Pekalongan. Hly.net/ Nzr/Tsi/update-inkanzus)